Petani keramba Sungai Batanghari sebenarnya memiliki peluang ekonomi besar: siklus panen 4–6 bulan, potensi 2–3 kali panen setahun, dan NTPI dapat di atas 100 ketika harga ikan stabil serta biaya pakan terkendali. Namun peluang tersebut runtuh ketika banjir luapan, sedimentasi, pencemaran, dan aktivitas PETI membuat air sungai keruh serta oksigen menurun.
Dampaknya sangat nyata: ikan stres, penyakit meningkat, kematian dapat mencapai sekitar 30% saat banjir, biaya obat bertambah sekitar Rp200 ribu per keramba, pakan terbuang, panen mundur, dan modal petani tersendat. Dalam situasi ini, usaha keramba yang seharusnya menjadi penopang ekonomi keluarga berubah menjadi sumber kerugian dan risiko utang.
Karena itu, perjuangan petani keramba harus diarahkan pada solusi hulu–hilir: pengawasan kualitas air secara rutin, peringatan dini banjir, bantuan bibit-pakan-obat bagi petani terdampak, penataan zona aman keramba, penertiban PETI dan sedimentasi, serta penguatan koperasi dan pasar ikan.
Sungai Batanghari harus dipulihkan bukan hanya sebagai aliran air, tetapi sebagai sumber kehidupan. Melindungi petani keramba berarti menjaga ekonomi keluarga, pangan rakyat, dan masa depan masyarakat Jambi.
Discussion about this post